Architecture should speak ofits time and place but yearn for timelessness. -Frank Gehry

Hai, kembali lagi di Arsilogi.
Struktur memang bukan concern utama dari perkuliahan arsitektur. Tetapi pada dasarnya struktur adalah hal tak terpisahkan dari arsitektur. Setiap arsitek harus memahami prinsip-prinsip struktur, walaupun tidak sedetail ahli struktur.
Illustration by Free-Photos via Pixabay

Nah, kita akan coba bahas sedikit tentang prinsip dasar cross-sectional properties secara sederhana dan singkat, yang mungkin akan lebih ke bahasa "awam" dan tidak terlalu teknis. Let's go!

Sedikit pengantar. Jika biasanya kita membayangkan struktur adalah sistem kolom balok-pondasi, atau rangka atap dsb, kali ini pembahasannya akan lebih spesifik atau pada hal kecilnya. Bayangkan saja jika Anda memiliki sebuah kolom baja profil H kemudian diiris-iris seperti sosis, maka Anda akan menjumpai bentukan huruf H bukan? hal tersebut dapat disebut bentuk geometri penampang.

Nah, pada penampang tersebut, ada beberapa sifat (sebut saja: properties) yang menjadi identitas struktural dari penampang tersebut. Setidaknya ada 5 hal yang dapat diketahui:
Image by asisten matkul struktur- JARS UII
Mengenai definisi, mungkin bisa Anda cari di referensi yang lebih lengkap. Misalnya buku "statics strength materials architecture construction" - Barry Onouye atau lainnya.
Adapun di post ini kita hanya akan mengulas cara perhitungan yang kami rasa mudah dipahami dan dipraktikkan.

Sebenarnya beberapa petunjuk sudah tertera pada gambar di atas, namun dalam praktiknya akan lebih mudah apabila merunut dan menghitung dengan sistem tabel. Rumus dan kolom isian lengkap dapat Anda amati pada gambar berikut ini:

Contoh pengerjaan soal cross-sectional properties dengan menggunakan tabel. (Dokumen penulis)


 ____________________________________________________
Untuk menambah pemahaman Anda, berikut adalah beberapa catatan bebas versi kami:
  • Centroid (C) adalah titik berat atau bisa juga disebut titik kesetimbangan. Nah, posisi C ini tidak selalu/harus di dalam bidangnya.

  • Untuk modulus penampang, anggap saja di pinggir-pinggir penampang (serat terluar) itu ada nilai yang bisa diketahui. Karena itu, maka yang paling menentukan adalah besarannya itu perlu diketahui momen inersia di titik berat (C), dan berapa jaraknya pinggiran tersebut ke C itu tadi. Lihat Ilustrasi!
  • Untuk Radius girasi, anggap saja jika suatu saat suatu reaksi tidak bisa dipusatkan pada titik kesetimbangannya suatu penampang (C). Bisa jadi karena kebutuhan konfigurasi sambungan atau lainnya. Nah, dalam kondisi tersebut ada yang disebut dengan radius girasi, ibaratnya adalah jarak yang dibolehkan/ jarak toleransi dari C apabila reaksi tersebut harus bekerja tidak tepat pada posisi C persis. Atau bisa disebut juga radius girasi ini radius efektif dari nilai Momen Inersia (I) yang ada/terwakili pada C. (CMIIW at this point).
  • Nilai r ini dapat digunakan perhitungan tegangan puntir atau tekuk, dan lebih lanjut dapat membantu menentukan kelangsingan (dimensi) suatu kolom. Perhatikan ilustrasi!



Sumber: Asisten Mata Kuliah Struktur_JARS UII.


Sekian dulu post kali ini, maaf kalau cukup panjang. Nah tabel isian dan fromat file excel adalah hasil susunan kami pribadi yang mengadaptasi rumus dari berbagai referensi. Jadi kami sangat terbuka untuk saran/kritik yang membangun jikalau ada yang kurang atau luput dari tulisan ini. Jangan lupa bagikan, dan tinggalkan komentar Anda sebagai bentuk dukungan untuk Arsilogi.

Terimakasih, dan semoga bermanfaat!
(/wir)

Yogyakarta-1 Februari 2020. Sakapari adalah semacam seminar nasional yang rutin dihelat oleh jurusan Arsitektur Universitas Islam Indonesia. Sesuai namanya, "Seminar Karya dan Pameran Arsitektur Indonesia" Sakapari menjadi sebuah wadah "formal" untuk mengenalkan berbagai karya mahasiswa, atau kolaborasi mahasiswa dengan dosen, alumni, bahkan diikuti peserta dari universitas lain. Memasuki kali yang ke-5 nya ini, tentu saja akan sangat sulit untuk menceritakan secara rinci apa saja yang sudah disampaikan di acara Sakapari 2020 ini. Namun, barangkali ada beberapa poin yang dapat kami bagikan dari sudut pandang peserta sekaligus presenter dalam sesi paralel.

SAKAPARI 2020: Ngebahas apa aja sih?, here we go.
Diawali dengan pengantar oleh ketua jurusan Arsitektur UII,  Nur Cholis Idham, PhD, IAI yang menyampaikan jumlah peserta/ presenter karya, yang juga diikuti oleh peserta dari UGM dan UMJ. Sakapari 2020 adalah sekaligus berkolaborasi dengan pusat studi +Sustainable in Architecture, sehingga membuat setidaknya 5 kelompok tema (tertera pada poster). Pada kesempatan ini Ia juga menyampaikan kabar gembira bahwa Arsitektur UII baru saja mendapatkan kembali akreditasi internasional oleh KAAB berdurasi 6 tahun (2020-2026). Kemudian dilanjutkan sambutan sekaligus pembukaan acara secara resmi oleh Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Miftahul Fauziah, MT, PhD.



Keynote Speaker: Prof. Ibrahim Nouman (Fatih Sultan Mehmet Vakif University - Turkey)
Membahas tentang arsitektur islam. Diawali dengan sejarah dan pemetaan penyebaran agama islam kemudian menilik bahwa bahkan dalam wilayah yang serumpun dan beriklim relatif sama pun umat islam memiliki begitu banyak variasi arsitektur. Karenanya, dalam pengantar singkatnya Prof. Nouman hanya membahas 2 bangunan yang dapat menjadi gambaran awal tentang arsitektur islam, Baitullah (mekah), dan Baitunnaby (rumah Mabi Muhammad & awal mula masjid nabawi). Salah satu poin yang patut digarisbawahi adalah bagaimana "masyarakat timur" dengan budaya ketimurannya memiliki prinsip yang berbeda dengan dunia barat. Architect dalam budaya barat sebatas dipahami sebagai archi + tekton (kepala pembangun), sedangkan dalam budaya ketimuran dan islam ada istilah "mimar" (seperti pada zaman kesultanan turki), yang memiliki akar kata "umr" yang berarti Tata Kehidupan. Sehingga dalam pandangan umat islam, seorang arsitek adalah selain penyongsong pembangunan juga merupakan seorang dapat mengajak dan memberikan pandangan baik dalam tata kehidupan antar manusia, terlebih lagi dengan sisi spiritualitas (keimanan).

Invited Speakers: Wazid, Dian, Mutia, Fachri, dan Furqon. 
Membawakan tema besar Arsitektur Tradisional Indonesia Timur, setiap pembicara undangan menyampaikan berbagai pengalaman menariknya di bermacam daerah Indonesia Timur. Mulai dari arsitektur Baruga, Rumah Adat Buton, Kampung Nggela di Ende, Gurusina, Juga Kampung Tarung di Bajo. Banyak sekali hal unik yang khas dari setiap tempat, hanya saja yang menjadi benang merahnya adalah bagaimana arsitektur tradisional memiliki sisi Tengible (kebendaan) dan Intengible (ketidak bendaan) yang menarik. Contohnya saja, dalam pembangunan sebuah rumah adat biasanya disertakan anak-anak untuk membantu dan berbagai macam ritual dan upacara (tengible), namun ternyata secara tidak langsung momen-momen tersebut juga menjadi estafet pembelajaran seni dan kemampuan membangun kepada generasi berikutnya sehingga tidak punah (intengible). Dalam sesi diskusi juga dibahas berbagai sudut pandang terkait pelestarian, material bangunan tradisional, dan mitigasi rumah adat terhadap ancaman kebakaran dan sebagainya.

Parralel Session
Peserta penyaji jurnal ilmiah dibagi ke dalam beberapa kelompok kelas sesuai tema dengan didampingi para moderator dari Dosen Arsitektur UII. Sesi tersebut memakan waktu beberapa jam dan tentu saja banyak sekali penelitian menarik. Kami yang berkesempatan menyimak di kelas Sains dan Teknologi Bangunan mendengarkan penelitian tentang material alternatif, pengkondisian termal, sebaran angin, intensitas sinar UV, dan masih banyak lagi. Setelah sesi presentasi pararel usai, seluruh peserta kembali ke auditorum dan untuk closing ceremony dan pemberian Blue Ribbon Award bagi peneliti KTI terbaik, Jurnal Sakapari terbaik, dan Penyaji Sakapari terbaik. 
Sekian. (/wir)

--------------------------------
Image Sources: 
1. https://architecture.uii.ac.id/sakapari-2020/#next
2. https://www.instagram.com/architecture.uii/

Desain konsep ini berawal dari membayangkan rumah (satu kamar utama, ruang tengah, kamar mandi, dapur, dan sebuah gudang kecil) yang affordable bagi kawula muda sekaligus menjadi fasilitas mengembangkan usaha.



Project Name : Konsep Desain Rumah dengan Bekas Kontainer

Architect : Arsilogi

Location : undefined

Dimension : 6 x 8 m

Status : concept (unbuilt)

Award : _

Supporting Files : Gambar Kerja (Download)

Bagian bawah rumah dengan material dinding pasangan bata konvensional, dipadukan dengan kontainer bekas untuk lantai 2. Dalam simulasi awal ini terdapat 2 konfigurasi, yaitu;

  1. RuKO dengan lantai 1 sebagai kantor/toko/showroom sehingga akses ke lantai 2 hanya melalui tangga luar.
  2. Dan Rumah sederhana yang menjadikan Lantai 1 sebagai ruang tamu dan ruang keluarga, sehingga terdapat satu buah tangga spiral di dalam rumah.

Bagaimana tanggapan Anda?

Selain tugas dan perannya sebagai perancang, seorang arsitek juga pada dasarnya seorang penikmat visual. Menyukai hal-hal baru, estetika baru, dan suasana baru adalah hal yang melekat pada pribadi seorang arsitek. Maka tak jarang, jalan-jalan menjadi salah satu hobi arsitek. Walaupun tidak setiap arsitek memiliki keahlian tinggi dalam memotret, fotografi adalah hal yang penting dalam membangun sense yang baik untuk penyajian desain atau sekedar mengabadikan momen walaupun dengan kemampuan dasar.

Nah, tentu saja ada banyak sekali hal yang menjadi bagian dunia fotografi. Mulai dari hal prinsip hingga berbagai hal yang remeh namun sangat berpengaruh saat pengambilan gambar. Semua tidak bisa didapatkan kecuali dengan banyak belajar dan terus berlatih, karena memotret merupakan keahlian yang sangat bergantung pada seberapa banyak prakteknya. Nah, dalam kaitannya dengan arsitektur, yang menjadi objek fotografi adalah bangunan dan elemen pendukung di sekitarnya. Berikut beberapa poin fotografi arsitektur yang perlu diperhatikan;

1. Lighting, Bermain Cahaya
Eksplorasi cahaya yang menerpa bangunan sebagai objek foto. Bisa menggunakan cahaya alami (matahari), ataupun cahaya buatan menggunakan penerangan lampu LED atau semisalnya. jika menggunakan cahaya alami, usahakan bukan saat terik. Melainkan cahaya yang cenderung "kalem" seperti sekitar pada pukul 6 - 9 pagi hari.

2. Frame Orientation, Landscape atau Potrait?
Kenali objek yang akan difoto. Jika objeknya adalah lansekap atau bangunan meluas yang sangat lebar, tentu saja orientasi landscape lebih cocok. lain halnya jika objek foto merupakan bangunan tinggi, maka potrait akan lebih tepat untuk membuat bagian penting objek dapat ditangkap dengan baik.

3. Garis Horizon dan Perspektif
Anda bisa pelajari lebih dalam apa  yang dimaksud garis horizon. Secara singkat, itu seperti sebuah garis maya yang akan tergambar di foto yang akan diambil. Garis tersebut ada baiknya anda posisikan pada 1/3 dari frame foto anda. Selain itu, perspektif juga penting. Dalam mendokumentasikan objek arsitektural anda mungkin menggunakan level mata manusia, level ketinggian katak (dari bawah), atau level ketinggian burung (dari atas).

4. Lingkungan Sekitar Bangunan
Komunikasikan objek foto anda dengan suasana sekitarnya. Hal tersebut akan membuat hasil foto lebih hidup dan terasa harmonis.

5. Cahaya Malam, Suasana dan Teknik Bulbing
Cobalah memotret di malam hari. Ini memang membutuhkan pemahaman yang lebih kompleks dibanding fotografi dalam cahaya siang. Namun, jika berhasil Anda akan mendapatkan foto dengan nuansa baru. Perhatikan perpaduan ISO, Shutterspeed, dan bukaan Eksposure. Bahkan jika anda mencoba teknik bulbing, yaitu memotret dengan shutterspeed sangat rendah, anda memiliki kesempatan untuk mengabadikan bangunan dengan momen menarik berupa garis2 cahaya dari kendaraan yang melintas di sekitarnya.

6. Distance, Eksplorasi Jarak
Dengan memperhatikan jarak foto ke objek, Anda akan merasakan perbedaan detail dan komposisi dari frame foto anda.

7. Details, Bermain dengan Elemen, Ritme dan Tektonika
Foto mengenai detail-detail arsitektural adalah hal yang menarik. Jika mengunjungi bangunan yang khas pada ritme atau tektur tertentu, abadikanlah dalam foto Anda! itu adalah salah satu keunikan dalam fotografi arsitektural!


——————
Ref: Syaifiena Wijayanti, “Yuk Motret Arsitektur”/CrazyToycam Magazine
Image source: pixabay.com/ maxmann


“Penundaanmu atas suatu amal kebaikan adalah cabang dari kebodohan”, begitulah salah satu kata mutiara yang saya dengar dari Kajian “Al-Hikam” bersama ust. Agus Mansyur di Masjid Ulil Albab, Ngemplak, Sleman siang bakda zhuhur tadi. Mungkin terdengar seperti pesan sederhana, namun ini adalah pesan yang memiliki makna yang mendalam bagi setiap insan. Tak terkecuali mahasiswa arsitektur dengan banyak sekali tugasnya sehingga tak jarang membuat kesulitan untuk mengatur waktu.

Latar belakang pesan ini yang berasal dari kajian masjid tentu akan mengarahkan kita kepada amalan-amalan ibadah yang dimaksud dengan kebaikan. Namun, sejatinya segala kebaikan terkait tanggung jawab kita sehari-hari dalam pekerjaan maupun lainnya selayaknya langsung dikerjakan saat ada kesempatan dan tidak ditunda. Ustadz Agus menyampaikan bahwa banyak penelitian modern yang mengungkapkan bahwa pekerjaan yang ditunda-tunda akan menimbulkan masalah yang semakin kompleks. Seperti penyakit yang jika tidak segera disembuhkan akan mengundang potensi penyakit lainnya sehingga menjadi komplikasi.

Dalam kitab Alhikam tersebut, dikatakan bahwa setidaknya ada 3 alasan mengapa menunda itu termasuk cabang kebodohon;

Yang pertana adalah; kita tidak tahu apakah ada kesempatan lagi di waktu mendatang. Ya, hanya orang bodoh yang terlalu percaya diri bahwa kesempatan yang ia temui akan berulang. Alangkah bodohnya jiwa yang terlalu yakin bahwa umurnya masih cukup untuk menunda-nunda. Setiap kali ada kesempatan ibadah, dirikanlah! Setiap kali ada kesempatan, taubatlah! Karena ajal tak menunggu kita setuju. Begitu juga terkait tanggung jawab tugas atau pekerjaan, laksanakan pada waktunya! Karena bisa jadi di masa depan ada tugas tambahan lain yang datang di luar perkiraan kita.

Yang kedua, adalah bodoh manusia yang menunda kebaikan ibadah seakan dia lupa bahwa yang Maha Pemberi Rizki adalah Allah ta’ala. Ya, betapa bodohnya kita saat lembur sampai pagi menyelesaikan pekerjaan namun sampai lalai ibadah kepada Allah, padahal kita sadar bahwa yang mengatur hidup kita ini sukses dan tidaknya adalah Ridho Allah juga. Jadi, jangan tumpuk pekerjaan!! Tetap gigih dan fokus, sekaligus jangan pula menunda tiap ada waktunya ibadah. Ingat, kita sukses bukan hanya karena kerja keras semata, namun juga karena terkabulnya doa.

Yang terakhir, si penunda kebaikan adalah bodoh karena dia lupa bahwa setiap kebaikan yang ia lakukan adalah demi kebaikan dirinya sendiri. Allah subhana wata’ala tidak memerlukan sujud, puasa, dan zakat kita!!, namun kitalah yang amat membutuhkan ridho dan pertolongan Allah. Baik di Dunia maupun di Akhirat. Ingat, bersungguh-sungguh dalam pekerjaan juga yakinilah demi kebaikan kita sendiri!! Bukan demi atasan,  namun saat kita berhasil bersungguh-sungguh sejatinya kita sedang menaikkan kualitas jati diri kita sendiri. Sekian, moga bermanfaat. (/wir)

------------------
Image souce: pixabay.com/Victoria_Borodinova

|| Perhatian: cerita dibawah ini adalah sepenuhnya rekaan semata, dan merupakan cerita rakyat yang sudah diubah dalam rangka memenuhi tantangan 4 #ODOPbatch7. Pengubahan yang dilakukan tidak bertujuan untuk menimbulkan misleading atau memojokkan pihak manapun. Terimakasih ||

Tokoh: 
-Raja Banterang
-Surati (Istri Raja Banterang)
-Rupaksa (Kakak kandung Surati)

Asal Usul Banyuwangi: Cerita rakyat versi Arsilogi

Suatu hari, di sebuah daratan wilayah Jawa Timur. Raja Banterang bersama para pengawalnya sedang berburu di hutan. Tiba-tiba seeko kijang melesat dan Sang Raja mengejar serta mencoba memanahnya. Raja Banterang terpisah dari rombongan pengawalnya.

Alih-alih menemukan kijang yang ia panah, Sang Raja justru menemukan seorang gadis yang terlihat lemah dan penuh luka tak berdaya. Raja mengangkat gadis itu dan membawanya kembali ke kerajaan. Setelah siuman, diketahui bahwa nama gadis itu adalah Surati, seorang gadis dari desa tetangga yang keluarganya menjadi korban perang dan orang tuanya tewas. Sang raja pun merasa iba dan berniat menikahinya. Surati tak keberatan, dan pernikahan pun terjadi.

Suatu hari, secara tidak sengaja Surati bertemu Rupaksa, kakak kandungnya. Rupaksa mengatakan bahwa suami Surati (Raja Banterang) adalah orang yang sudah membutuh orang tua mereka. Rupaksa terus memohon Surati untuk balas dendang dengan meracuni Sang Raja.

Surati menolak, Rupaksa tak bisa memaksa. Sebagai gantinya, Rupaksa meminta Surati untuk membawa sebuah senthir (semacam lampu kecil dengan nyala api) sebagai oleh-oleh darinya. "Cobalah pakai ini di meja kamarmu, niscaya kamarmu terasa lebih terang adikku", ucap Rupaksa.
Surati menerimanya dan mereka berpisah.

Tanpa diketahui Surati, Rupaksa menemui Raja Banterang dan mengatakan bahwa Surati berniat membunuhnya. Sang Raja tidak percaya, namun Rupaksa menyakinkan, "Periksalah meja di kamarmu!, niscaya kau temukan sebuah senthir yang minyaknya mengandung racun!"

Raja Banterang pun bergegas menengok kamarnya dan menemukan senthir seperti yang disampaikan Rupaksa. "Ternyata benar kamu berniat membunuhku Surati??!!". Raja hendak membanting senthir itu, namun Surati menangkapnya sebelum pecah di lantai. Surati yang belum sempat menjelaskan langsung diarak pengawal dengan senthir itu diikatkan pada pinggangnya menuju sebuah air terjun yang ada danau di bawahnya. Perjalanan menuju air terjun itu melalui hutan, semak, dan kebun bunga.

Surati yang sambil terus menangis mencoba mengapai bunga-bunga di sekitarnya. Masih tak percaya atas apa yang menimpanya. Sebenarnya, baik Sang Raja maupun Surati belum memastikan apakah minyak yang ada dalam senthir itu. Namun Raja dan Semua pengawal berniat menyeburkan Surati di depan seluruh masyarakat ke air terjun sebagai pembelajaran atas pengkhianat.

Tepat sesaat sebelum adegan "dibunuh" itu, surati memberanikan diri menyampaikan idenya. Bertaruh atas nasibnya sendiri.
"Wahai Raja!!, Suamikuu!!, Bagaimana jika kubuktikan bahwa tuduhan ini salah??!. Akan kulemparkan senthir ini ke air terjun, dan jika ikan-ikan di danau mati, maka benar aku berniat meracunmu. Namun bila wangi semerbak yang tercium, maka aku sungguh tidak ingin membunuhmu!".

Sang Raja Setuju, Surati pun melemparkan senthir itu bersamaan dengan beragam bunga yang ia gapai selama diarak. Tanpa diduga, entah apa yang terjadi danau yang ada di bawah air terjun justru berubah jadi wangi dan tak ada ikan yang mati. Surati pun kembali dipercaya, hidup bahagia bersama raja dan kerajaan berhasil menangkap Rupaksa.

Tanpa disadari, "racun" yang dimasukkan Rupaksa ke dalam senthir itu ternyata adalah etanol. Senyawa yang didapatnya dari fermentasi tumbuhan liar di hutan, yang ternyata juga bahan dasar ekstraksi parfum. Dalam jumlah yang pekat memang beracun, namun jika dicampurkan dengan kelopak bunga dan air akan menjadi parfum yang begitu wangi. **

Danau yang wangi itu pun menjadi daya tarik desa dan wilayah sekitar. Selama 2-3 hari harum semerbak menyebar dan mereka menggunakannya untuk pewangi badan. Menjadi awal mula parfum alami di daerah Jawa, dan semua orang menyebut daerah kerajaan Banterang itu dengan BANYUWANGI. Banyu artinya air, dan wangi berarti harum.

(/wir)

------------
**Swear, ini sangat ngarang ya sodara-sodara. Data komposisi yang bener bisa dicari di referensi atau tanyain ke sutradara Breaking Bad. LoL


Tulisan kali ini akan sekilas membahas tentang sistem telekomunikasi dan elektrikal (kelistrikan) dalam sebuah gedung, khususnya gedung berlantai banyak yang memiliki sistem yang lebih kompleks.


Telekomunikasi
Secara umum, komunikasi terkait sebuah gedung terbagai menjadi 2 jenis yaitu; komunikasi dari/keluar bangunan, dan komunikasi di dalam bangunan saja.
    Sedangkan menurut arahnya, telekomunikasi terbagi menjadi komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah. Komunikasi satu arah contohnya TV, radio, sound system, dan CCTV. Komunikasi dua arah contohnya telepon.
     Adapun menurut sistem gelombangnya, komunikasi tanpa kabel (wireless) dan komunikasi dengan kabel (wired).
Poin-poin tersebut penting untuk dipahami agar dapat mencari tahu lebih lanjut alat apa saja yang dibutuhkan dalam gedung dan bagaimana spesifikasi ruang yang dibutuhkan. Misalnya terkait dimensi ruang, elevasi, jalur udara, shaft, kelembaban, dan kriteria lainnya.


Elektrikal
Jaringan listrik merupakan sistem yang sangat penting bagi operasional sebuah gedung. Mulai dari penerangan, sistem audio, sistem informasi, sistem transportasi mekanis (seperti lift, eskalator, travelator, dsb), hingga sistem keamanan semuanya membutuhkan sumber daya listrik.


Sumber tenaga listrik
Setidaknya ada 3 sumber utama dalam pengadaan energi listrik di gedung, yaitu:
1. PLN (Perusahaan Listrik Negara)
2. Genset (Generator Set)
3. Baterai (Accumulator)
Setiap dari sumber ini memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing terkait dengan pertimbangan finansial, efek yang ditimbulkan misalnya suara berisik, getaran, atau bau, dan kebutuhan tempat yang sesuai dengan gedung.
Maka seringkali ditemui 2 hingga 3 sumber tersebut ada semuanya dalam satu gedung dalam kaitannya dengan sumber energi cadangan, alternatif, dan darurat.

Sistem Distribusi Listrik
Karena tegangan yang sangat tinggi, dan fixture yang sangat kompleks dari sebuah gedung, maka diperlukan banyak komponen dalam sistem kelistrikan agar listrik dapat disistribusikan dengan benar. Secara umum sistem distribusi listrik dalam gedung dapat dipahami melalui bagan berikut:


Selain itu, terdapat banyak alat dan elemen yang lebih rinci dalam distribusi listrik. Misalnya switchboard, trafo, sakelar, sekering, dan lain sebagainya. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda beda dan harus ditempatkan pada posisi yang tepat agar tidak terjadi kesalahan sistem atau korsleting. (/wir)


------
Ref: Berbagai sumber
Tulisan ini terinspirasi dari materi yang sering disampaikan di berbagai forum oleh seorang pakar bisnis dan ekonom, Mardigu Wowiek Prasantyo (MWP) yang memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun berbisnis, juga memiliki pengalaman panjang di dalam bidang geopolitik dan geoekonomi. 

MWP atau yang juga kerap dikenal "Bossman Sontoloyo" dalam channel youtube-nya memiliki pandangan yang luas tentang dunia perekonomian nasional dan kaitannya dengan dunia internasional. Menurutnya salah satu sebab stuck dan bobroknya sistem ekonomi dan politik di dalam negeri adalah karena terpaku dan menginduk pada sistem raksasa yang ada di dunia. IMF dan seluruh jaringan anak-pinaknya hingga perpanjangan tangannya di dalam negeri berupa Bank sentral (Bank Indonesia/BI) ia sebut sebagai salah satu pokok perasalahan karena secara tidak langsung namun intens dan kuat dalam mempengaruhi gerak suatu negara dengan segala tipu muslihatnya.

Ya, mungkin sekilas tulisan ini seperti tidak ada hubungannya dengan arsitektur yang menjadi tema besar arsilogi. Namun ada poin penting yang menarik yang Bossman Mardigu sampaikan pada kuliahnya di sebuah forum Saudagar Nusantara. Ia menyampaikan bahwa berapa banyak proyek di negeri ini yang secara tidak sadar sebenarnya adalah "ekspor hutang" dari negara asal proyek, karena barang/fasilitas yang dipasang di Indonesia kerap kali merupakan barang/fasilitas bekas yang kemudian memaksa Indonesia membayar dengan dollar. Ya, "proyek bekas" dibayar USD. Memprihatinkan. "Oke, anggap saja ini hoaks. Tapi perlu dipikirkan juga kan"-tandasnya.

Belum lagi, proyek-proyek infrastruktur besar-besaran yang dinilainya "statis" membuat peta tujuan pertumbuhan Indonesia semakin kurang jelas. Belum lagi, menurut Bossman Mardigu banyak pembangunan yang kurang memperhatikan ketahanan dan geopolitik negara. Misalnya, dari sekian banyak pelabuhan dan dermaga baru yang dibangun di Pulau Sumatera kebanyakan tidak memperhitungkan Kapal AL Indonesia untuk bersandar. Atau sudahkah melakukan langkah strategis untuk membuat jalur lintas dan gerbang Selat Malaka karena selat tersebut sangat vital bagi perekonomian dunia. Atau sudahkah pembangunan Tol diperhitungkan untuk berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.

"Makanya, kalo membangun itu harus belajar yang banyak dulu ke LEMHANAS*!, biar tau caranya bangun yang bener dan ada jiwa bela negara!" -begitu imbuhnya. Menurutnya, setiap pembangunan yang dilakukan di negeri ini hendaknya mempertimbangkan proyeksi ketahanan bangsa di masa depan. Hal tersebut agar kesejahteraan bisa diusahakan dan tidak mudah terkoyak oleh kecamuk politik dunia. Memang, mungkin langkah pertama untuk mencetuskan tujuan geopolitik nasional yang jelas adalah tugas pemerintah dan jajarannya. Namun menjadi arsitek yang punya sikap bela negara yang benar adalah hal mendasar dan begitu mahal yang dibutuhkan dari setiap elemen negeri ini.  (/wir)


------------------
author
ARSILOGI
Adalah sebuah portal untuk berbagi berbagai hal tentang arsitektur. Ada info menarik, cerita, contoh projek, imajenasi dan banyak lagi. Selengkapnya..