Sunday, July 28, 2019

Mendesain Kota yang Tidak Membosankan Ala Vishaan Chakrabarti



Vishaan menunjukkan kota-kota indah yang unik di berbagai belahan dunia, Mulai dari sudut kota Roma di Spanyol, Citra kota Paris, Tangga berputar di Jaipur, Tanah yang begitu miring di Rio de Janeiro, hingga jalur pedestrian yang melengkung di Venesia.

Kemudian ia bandingkan kota-kota tadi dengan kota-kota baru di abad ini yang ternyata hampir semuanya sama. Mulai dari penuh dengan pencakar langit, hingga plaza yang flat atau rata. Ia tegaskan, ini bukan hanya sekedar masalah estetika yang subyektif, namun mengapa kita yang di zaman maju ini justru tidak memiliki (atau kehilangan) karakter atau hal-hal yang historis seperti potret-potret di masa lalu?
Menurutnya, ada 2 hal fundamental yang menjadi penyebabnya, dan itu bisa berimbas secara global di seluruh belahan dunia. Dua hal ini yang membedakan perkembangan arsitektur masa kini dengan berbagai potret bersejarah yang menakjubkan itu.
Yang pertama adalah Produksi massal, dan yang kedua adalah regulasi. Produksi massal membuat bahan-bahan industri dalam jumlah besar diproduksi, sehingga menimbulkan ide yang itu-itu saja pula. Sedangkan regulasi membuat banyak hal menjadi “kaku” sehingga muncullah keseragaman itu dan lambat laun mengikis karakter masing-masing tempat.
Jika diibaratkan roti tawar, maka sudah sewajarnya dia dicustomisasi masing-masing sesuai selera bukan? Kecuali jika kita mau makan roti tawar hasil dari produksi massal begitu saja, berarti kita malas memproses makanan? Dan jika makanan saja kita se-begitu “kaku”nya, maka buat apa kita pusing memikirkan kota untuk kembali bervariasi?? Tentu sebaliknya.

Jika ingin berandai, tentu akan indah jika melibatkan masa depan untuk merancang kota yang lebih unik. Misalnya, dengan adanya autonomous car yang bebas dari bahaya kecelakaan di masa depan tidak perlu lagi dipisahkan antara jalur kendaraan personal dengan kehidupan sosial. Bayangkan jika mobil-mobil kecil bisa berseliweran di antara pengunjung-pengunjung wisata atau pusat perbelanjaan. Atau misalnya tak dibutuhkan lagi Ramp yang -menihilkan- bentuk tangga-tangga yang melengkung tadi karena di masa depan mungkin saja ada kursi difabel yang bisa mengambang tanpa roda?

Kalaupun direlevansikan dengan kondisi masa kini, maka yang memungkinkan adalah benar-benar memikirkan secara mendalam setiap kali akan mendesain suatu tempat. Konteks amatlah penting dari sebuah karya sehingga bisa menimbulkan karakter masing-masing tempat kembali. Seperti Alejandro aravena yang membuktikan dengan kehidupan urban yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan komunitas yang sebelumnya kubuh, atau arsitek lainnya seperti Tatiana Bilbao, Balkrishna Doshi, dan lain sebagainya.

“Kita dapat membangun kota-kota yang sedemikian spektakuler sehingga kita dapat membereskan -urban sprawl- dengan tetap melindungi alam secara benar. Kita dapat menumbuhkan kota-kota yang berteknologi tinggi, tetapi juga menanggapi kebutuhan budaya abadi dari semangat manusia. Saya yakin bahwa kita dapat membangun kota-kota yang berbeda yang membantu menciptakan mosaik global yang diinginkan oleh banyak dari kita”, Tegas Vishaan Chakrabarti.

Tulisan ini terinspirasi dan merupakan intisari dari presentasi Vishaan Chakrabarti di Forum TED dengan tajuk “How we Can Design Timeless City for Collective Future”.\\


author
ARSILOGI
Adalah sebuah portal untuk berbagi berbagai hal tentang arsitektur. Ada info menarik, cerita, contoh projek, imajenasi dan banyak lagi. Selengkapnya..