Bangunan Dapat Ganggu Kesehatan!, Sudahkah Anda Mengenal Sick Building Syndrome?

sick building syndrome, free photo via pixabay.com 
Pernahkah anda terpikir bagaimana sebuah ruang (atau tepatnya bangunan tempat manusia terbiasa hidup sehari-hari) memiliki andil dalam mempengaruhi kesehatan penghuninya?

Atau pernahkan anda mengalami bersin-bersin terus menerus saat memasuki ruangan tertentu?, Terganggu dengan bau dan merasa mual, tidak produktif bekerja karena alergi suasana kantor atau yang semisalnya?

Faktanya, laporan WHO pada tahun 1984 menyebutkan bahwa kurang lebih 30% dari bangunan baru dan renovasi di seluruh dunia memiliki kualitas udara indoor yang buruk.


Sick Building Syndrome (SBS) adalah sebuah kondisi medis dimana seseorang atau sebuah komunitas mengalami gejala-gejala sakit atau tidak fit tanpa alasan jelas yang terkait atau disebabkan oleh kondisi suatu bangunan.

Pada sebuah bangunan yang terindikasi menimbulkan SBS, biasanya semakin lama berdiam di tempat tersebut akan semakin parah gejala yang dirasakan. Gejala-gejala SBS diantaranya adalah ketidaknyamanan hingga rasa sakit pada kepala, mata, hidung, hingga tenggorokan, dan lain sebagainya.


Memahami SBS

SBS juga terkadang disebut “Building Related Symptoms” dimana hal tersebut dimaksudkan lebih kepada menggambarkan kondisi pasien/pengguna yang dipengaruhi oleh tingkat kelayakan bangunan.
 
Bangunan yang terindikasi memicu SBS pada dasarnya memiliki banyak sekali elemen bangunan yang dapat didiagnosis. Meliputi hal-hal yang dinilai kualitatif semisal keergonomisan ruang dan perabot. Contohnya jika ruang atau perabot tidur anda tidak membuat posisi nyaman ketika tidur, maka hal tersebut dapat menimbulkan rasa nyeri atau kondisi bangun tidur yang tidak fresh setiap harinya.

Maupun materi yang bisa diukur secara kuantitaif semisal jumlah kontaminan bakteri, kualitas udara, jamur pada permukaan cat, jamur pada permukaan lantai, debu yang menumpuk, dan lain sebagainya. Hal tersebut sangat mungkin memicu keluhan-keluhan kesehatan seperti pusing, batuk, iritasi kulit, dan sebagainya.

Selain keluhan secara fisik, SBS juga dapat menimbulkan gejala-gejala psigologis seperti stress. Misalnya pada ruang kerja yang terlalu mengintimidasi, terlalu sempit, atau justru tidak memberikan privasi yang baik. Jadi SBS dapat timbul di berbagai bangunan yang sehari-hari sering digunakan manusia. Jika anda tinggal di ruang kamar, kost atau apartemen, bangunan yang kurang baik mungkin akan membuat anda kurang produktif atau sampai menimbulkan malas dan sering tidak fit, mungkin terjadi SBS di lingkungan anda.

Faktor Pemicu dan Langkah Mencegah Terjadinya SBS

Pada dasarnya, SBS timbul berawal dari desain bangunan yang tidak memberikan performa yang baik, khususnya dalam hal kenyamanan dan kesehatan.Mungkin ini (SBS) adalah salah satu latar belakang disusunnya berbagai standar di seluruh dunia tentang kelayakan suatu bangunan. Diantaranya GBC (Green Building Council) yang memberikan banyak sekali parameter rancangan bangunan yang baik. Ada juga standar lainnya seperti BREEAM (Building Establishment Environmental Assessment Method), atau ASHRAE(American Society of Refrigerating and Air Conditioning Engineers) yang menerbitkan standar tentang kenyamanan termal dan kualitas udara, atau standar lainnya. Maka langkah terbaik dalam mencegah terjadinya SBS adalah dengan menggunakan standar-standar tersebut dengan tepat dalam proses perancangan sehingga dapat menghasilkan performa bangunan yang baik, sehat, dan aman.

Adapun beberapa langkah teknis lainnya yang dapat diusahakan untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya SBS adalah sebagai berikut:

  1. Menggunakan tanaman penyerap toksin/racun bebas seperti misalnya “sansevieria”. Letakkan pada spot tertentu bangunan yang tidak mengganggu aktifitas.
  2. Pembersihan atap dan plafon untuk menghilangkan jamur, kerak, dan debu. Gunakan alat yang tidak bertekanan tinggi atau yang dapat menyebabkan jamur dan debu justru beterbangan.
  3. Pada kasus yang parah, dapat menggunakan material tertentu untuk mengurangi bakteri dan jamur. Misalnya semprot ozone. Pastikan menggunakan tenaga ahlinya untuk melakukan langkah tersebut.
  4. Ganti penggunakan material lantai dan plafon yang dapat menyimpan debu. Misalnya karpet yang terlalu tebal, dsb.’
  5. Gunakan bahan cat yang aman, tidak mengandung timbal atau pestisida, atau bahan lain yang merugikan kesehatan.
  6. Tingkatkan aliran udara, maksimalkan ventilasi dan sistem ventilasi silang.
  7. Jaga kondisi mesin AC, kipas angin, dsb.
  8. Maksimalkan penggunaan pencahayaan alami (cahaya matahari) yang dimasukkan ke dalam ruang. (Jika Memungkinkan).
----  
Nah, itu adalah sekilas tentang Sick Building Syndrome, sekian dulu untuk ulasan kali ini. Semoga bermanfaat untuk anda, dan membuat ide baru untuk bangunan anda. Terimakasih, dan sampai jumpa! :D

----
Ref: Diceritakan ulang dari berbagai sumber.

28 comments:

  1. blog keren nih, anti maenstream menurut gue . mantap Mas Hab. lanjutkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, thankyou!. Makasih udah mampir kesisni, besok2 jangan bosen mampir sini. :D

      Delete
  2. Nice info mas Hab�� ini bisa jadi refrensi kesehatan dan tata ruang sekaligus hehe. Otw beli sansevieria

    ReplyDelete
  3. Keren deh artikelnya. Baru tahu aku soal SBS. Thanks for sharing ya kakak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasiih sudah mampir sini. Jangan bosen-bosen untuk main baca artikel selanjutnya ya..! :D

      Delete
  4. Alhamdulillah ilmu baru.

    Ternyata sekompleks ini yaa hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah berkunjung, nantikan post selanjutnya ya! :D

      Delete
  5. Wah ilmu baru. SBS ya. Nice info Kak....👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah mampir, senang bisa berbagi. ^^

      Delete
  6. Wah..keren kk, alhamdulillah ilmu saya jadi nambah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah mampir, senang bisa berbagi. ^^

      Delete
  7. Wahhhh ini keren. Mengingatkan sy pada beberapa slide percakapan terdahulu. Sekali pun belum terpikir tentang apa namanya, sy sendiri sempat bertanya hal demikian. Hubungan antara kondisi bangunan atau tempat tinggal dengan kesehatan penghuninya.

    Wah,,, nice info ini. Terimakasih Kak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, terimakasih sudah berkenan membaca.
      Dan Terimakasih sudah mampir, senang bisa berbagi. ^^

      Delete
  8. Nambah ilmu ni makasih kaka bagus tulisannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah mampir, senang bisa berbagi. ^^

      Delete
  9. Baru tahu kalau ada syndrome ini. Keren nih artikelnya ����

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah mampir, senang bisa berbagi. ^^

      Delete
  10. Nice sharing, makasih infonya Kaak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah mampir, senang bisa berbagi. ^^

      Delete
  11. Replies
    1. Terimakasih sudah mampir, senang bisa berbagi. ^^

      Delete
  12. Pengetahuan baru nih buat saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih sydah mampir, moga berfmanfaat...

      Delete
  13. banyak baca ..banyak tahu
    mampir ke blog ini jadi nambah ilmu

    ReplyDelete
  14. Infonya bermanfaat. Saya baru tahu istilah tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih sudah berkunjung, selamat membaca artikel terbaru lainnya! :D

      Delete

Powered by Blogger.