Monday, September 16, 2019

Pasar Demangan Yogyakarta, Perlukah dibuat seperti Beringharjo? [Potret Pasar Tradisional]


[Potret PasaTradisional] Jika membahas pasar tradisional saya (penulis) tertarik untuk membawa anda "berkeliling" ke berbagai macam pasar di Jogja. Karena Kota Jogja dengan perkembangan yang begitu pesatnya masih "menyisakan" pasar-pasar tradisionalnya untuk bertahan di tengah pertumbuhan pasar-pasar modern dan retail.

Kita mulai dari Pasar Demangan. Pasar ini terletak di daerah Demangan, ujung selatan dari Jalan Gejayan (Jalan Affandi). Saat pertama kali mengunjunginya, yang terlintas adalah bahwa "Pasar Demangan ini adalah ~Pasar Tumpahnya Kota Jogja. Ya, karena pasar ini tepat terletak di persimpangan besar jalan affandi. Titik pertemuan antara banyak kendaraan dari arah Janti dan Ringroad utara. Dan tengah padatnya lalu lintas tersebut, Pasar Demangan ikut "tumpah" ke jalanan meramaikan suasana. Mulai dari barisan becak dan parkir motor, hingga lalu lalang pelanggan pasar yang menyebrang pasar. Membuat kemacetan begitu akrab dengan daerah Pasar Demangan ini. Namun disisi lain Pasar ini juga nampak masih diminati banyak kalangan dengan lengkapnya rempah dan bahan pokok yang dijual, hingga wisatawan mancanegara yang menginap di hotel terdekat juga beberapa kali terlihat mengunjungi pasar ini.


Lalu apakah kondisi tersebut sepenuhnya salah? Apakah pasar ini harus digusur untuk akses jalan yang lebih baik? Atau jalan harus dialihkan ke lajur baru agar pasar lebih makmur dan tetap "tumpah"? Ataukah pasar ini harus dikondisikan ulang dengan renovasi atau dibangun vertikal ke atas misalnya? Haruskah diperhatikan lebih dan dibuat setertib Pasar Beringharjo di Malioboro? Tapi apakah jika diubah sedemikian rupa masih layak disebut pasar tradisional?

Well, itulah beberapa pertanyaan yang beberapa kali terpikir di benak saya. Jika ditelisik dari berbagai penelitian dan jurnal tentang pasar tradisional, definisi yang paling kental dari pasar tradisional justru pada sistem jual beli di dalamnya yang memungkinkan interaksi penjual dan pembeli dan juga memungkinkan adanya tawar menawar harga barang dagangan. Jika demikian, maka perkara bangunan dan arsitektur seakan tidak terkait dengan "Pasar Tradisional". Namun apakah itu sepenuhnya benar demikian?

Menurut saya pribadi, arsitektur yang pada dasarnya akan selalu meliputi hampir setiap aktifitas manusia tak bisa luput dari upaya mempertahankan ke-Tradisional-an pasar ini. Jika pun dianggap suasana "kumuh" , tumpah ke jalanan, tidak permanen dan ornamen BUKAN syarat mutlak untuk menjadikan sebuah pasar Tradisional, maka desain dari sebuah pasar tradisional harus dapat mengakomodasi dengan baik kegiatan yang akan ada dari definisi sebelumnya. Misalnya kegiatan tawar menawar berarti membutuhkan ruang atau lorong pasar yang muat dan nyaman untuk melakukan tawar menawar harga dan interaksi yang intens antara penjual dan pembeli. 

*Hal mirip seperti ini sebenarnya dilakukan Thomas Karstn dalam rancangan Pasar Gede Solo yang memperhatikan kemudahan gerak pedagang (mudah mengangkat barang dengan menaikkan lantai pedagang) dan selanjutnya sampai hari ini walaupun berbentuk gedung, Pasar Gede tetap dianggap sebagai Pasar Tradisional. Jadi, bukan masalah untuk mengkondisikan Pasar Demangan menjadi lebih kondusif "seperti Pasar Beringharjo Malioboro" dan tidak lagi tumpah ke jalan serta mengurangi tingkat kemacetan yang terjadi. Selanjutnya adalah tugas stakeholder untuk mulai membuat keputusan. Aksi dan Reaksi.

Setujukan anda dengan pandangan singkat ini?, Bagaimana Pendapat anda?
Next on: Pasar Gede Surakarta, Teladan Pasar Humanis?

---------------------------------------------- 
Ref: Hasil survey dan kajian ilmiah oleh Wirawan Habibie pada Maret 2019

No comments:

Post a Comment

author
ARSILOGI
Adalah sebuah portal untuk berbagi berbagai hal tentang arsitektur. Ada info menarik, cerita, contoh projek, imajenasi dan banyak lagi. Selengkapnya..