Friday, October 4, 2019

Arsitek Negara dan Seluruh Atasannya Harus Belajar ke Lemhanas Dulu!; Sebuah Sudut Pandang

Tulisan ini terinspirasi dari materi yang sering disampaikan di berbagai forum oleh seorang pakar bisnis dan ekonom, Mardigu Wowiek Prasantyo (MWP) yang memiliki pengalaman lebih dari 25 tahun berbisnis, juga memiliki pengalaman panjang di dalam bidang geopolitik dan geoekonomi. 

MWP atau yang juga kerap dikenal "Bossman Sontoloyo" dalam channel youtube-nya memiliki pandangan yang luas tentang dunia perekonomian nasional dan kaitannya dengan dunia internasional. Menurutnya salah satu sebab stuck dan bobroknya sistem ekonomi dan politik di dalam negeri adalah karena terpaku dan menginduk pada sistem raksasa yang ada di dunia. IMF dan seluruh jaringan anak-pinaknya hingga perpanjangan tangannya di dalam negeri berupa Bank sentral (Bank Indonesia/BI) ia sebut sebagai salah satu pokok perasalahan karena secara tidak langsung namun intens dan kuat dalam mempengaruhi gerak suatu negara dengan segala tipu muslihatnya.

Ya, mungkin sekilas tulisan ini seperti tidak ada hubungannya dengan arsitektur yang menjadi tema besar arsilogi. Namun ada poin penting yang menarik yang Bossman Mardigu sampaikan pada kuliahnya di sebuah forum Saudagar Nusantara. Ia menyampaikan bahwa berapa banyak proyek di negeri ini yang secara tidak sadar sebenarnya adalah "ekspor hutang" dari negara asal proyek, karena barang/fasilitas yang dipasang di Indonesia kerap kali merupakan barang/fasilitas bekas yang kemudian memaksa Indonesia membayar dengan dollar. Ya, "proyek bekas" dibayar USD. Memprihatinkan. "Oke, anggap saja ini hoaks. Tapi perlu dipikirkan juga kan"-tandasnya.

Belum lagi, proyek-proyek infrastruktur besar-besaran yang dinilainya "statis" membuat peta tujuan pertumbuhan Indonesia semakin kurang jelas. Belum lagi, menurut Bossman Mardigu banyak pembangunan yang kurang memperhatikan ketahanan dan geopolitik negara. Misalnya, dari sekian banyak pelabuhan dan dermaga baru yang dibangun di Pulau Sumatera kebanyakan tidak memperhitungkan Kapal AL Indonesia untuk bersandar. Atau sudahkah melakukan langkah strategis untuk membuat jalur lintas dan gerbang Selat Malaka karena selat tersebut sangat vital bagi perekonomian dunia. Atau sudahkah pembangunan Tol diperhitungkan untuk berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.

"Makanya, kalo membangun itu harus belajar yang banyak dulu ke LEMHANAS*!, biar tau caranya bangun yang bener dan ada jiwa bela negara!" -begitu imbuhnya. Menurutnya, setiap pembangunan yang dilakukan di negeri ini hendaknya mempertimbangkan proyeksi ketahanan bangsa di masa depan. Hal tersebut agar kesejahteraan bisa diusahakan dan tidak mudah terkoyak oleh kecamuk politik dunia. Memang, mungkin langkah pertama untuk mencetuskan tujuan geopolitik nasional yang jelas adalah tugas pemerintah dan jajarannya. Namun menjadi arsitek yang punya sikap bela negara yang benar adalah hal mendasar dan begitu mahal yang dibutuhkan dari setiap elemen negeri ini.  (/wir)


------------------

No comments:

Post a Comment

author
ARSILOGI
Adalah sebuah portal untuk berbagi berbagai hal tentang arsitektur. Ada info menarik, cerita, contoh projek, imajenasi dan banyak lagi. Selengkapnya..